JK250811

Sabtu, 13 Juni 2015

Waisak Satukan Ragam




Waisak Satukan Ragam

Oleh : Johanes Krisnomo
 
Ribuan umat Budha mengikuti puncak acara Peringatan Hari Tri Suci Waisak 2015 di Vihara Vippasana Graha, Jln. Kol. Masturi No. 69 Lembang, Kab. Bandung Barat, Minggu (07/06/2015). Peribadatan di kawasan komplek vihara, Gedung Dhammasala tersebut, dihadiri oleh umat yang berasal dari Bandung dan beberapa kota lainnya di Indonesia.  

Bangga dan bahagia, meliput kegiatan doa saudara sebangsa, Waisak, sekaligus kagum betapa Indonesia negeri kaya penuh toleran.

Keberagaman merupakan tiang pancang rumah besar, jerih payah perjuangan dan pengorbanan para pendahulu, menjadi dasar utama kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mari kawan, pertahankan terus keberagaman, bukan dicari celah perbedaannya, melainkan optimalisasi kekuatan masing-masing untuk Indonesia berjaya!

Lembang, 07 Juni 2015      Catatan : Sumber Foto Koleksi Pribadi

Tayang di : www.kompasiana.com/stalgijk     www.kabarindonesia.com









  Terimakasih Atas Kunjungannya
Sampai Jumpa
Johanes Krisnomo

Minggu, 31 Mei 2015

Batik Antik Cantik Menarik




Batik Antik Cantik Menarik

Oleh : Johanes Krisnomo

Batik merupakan warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia dan diakui oleh UNESCO – PBB sejak tahun 2009. Salah satu jenis batik nusantara yang terkenal berasal dari Pekalongan, seperti di kawasan Grosir Batik Pantura Pekalongan, Minggu (03/05/15). Selain digunakan sebagai bahan pakaian, juga asesoris lainnya seperti tas, dompet dan lain-lain.

Penghargaan UNESCO terhadap batik, didasarkan atas sikap pemerintah dan rakyat yang telah melakukan berbagai langkah-langkah nyata dalam upaya melindungi dan melestarikan warisan budaya batik secara turun-menurun dan konsisten.

Tak dapat dipungkiri, batik memang antik, cantik dan menarik!

Mari satukan kebanggaan sebagai bangsa dengan berbagai upaya dan pemanfaatan batik dalam berbagai sendi kehidupan, demi terciptanya jati diri bangsa yang lebih mumpuni!

Sumber Foto : Koleksi Pribadi Johanes Krisnomo/Cimahi 300515/ Tayang di www.kompasiana.com/stalgijk











 



www.johaneskrisnomo.blogspot.com
www.kompasiana.com/stalgijk






Senin, 23 Februari 2015

Sambut Cap Go Meh di Pulau Kemaro


Sambut Cap Go Meh di Pulau Kemaro

Siti Fatimah, putri dari Kerajaan Palembang, disunting oleh Tan Bun An, saudagar asal Tiongkok. Oleh Tan, Siti diajak ke negeri asal mereka untuk menjenguk keluarganya. Saat kembali ke Palembang, pasangan ini mendapat hadiah berupa tujuh guci.

Guci itu baru dibuka oleh Tan saat kapal mereka berada di alur Musi. Tan terkejut karena guci yang dihadiahkan ternyata berisi sayuran. Ia pun membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, saat membuang guci terakhir, guci itu pecah di dek kapal dan terbongkarlah isi guci yang sesungguhnya.

Mengetahui bahwa guci berisi harta, Tan kemudian terjun ke sungai untuk mengambilnya kembali. Naas, Tan tidak muncul lagi ke permukaan. Begitu pula saat anak buahnya dan Siti menyusul terjun ke sungai dengan maksud menolong, mereka mengalami nasib serupa. Sejak saat itu, penduduk sekitar sering berkunjung ke Kemaro untuk mengenang mereka.

Legenda tentang Pulau Kemaro ini terpahat dalam prasasti di sisi kanan depan kelenteng yang dibangun oleh dinas pariwisata setempat. Tidak disebutkan apakah pendirian kelenteng ini ada hubungannya langsung dengan legenda itu. Yang pasti, citra Pulau Kemaro kemudian lekat dengan budaya Tionghoa di Palembang.

Selain kelenteng dan makam, di pulau seluas 180 hektar itu juga terdapat pagoda berlantai sembilan yang jarang ditemui di tempat lain.

Pada setiap perayaan Imlek, pulau yang berada sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera ini banyak didatangi orang. Jumlah mereka makin banyak saat Cap Go Meh tiba, yakni 13 hari setelah Imlek. Saat itu, tidak hanya warga Tionghoa penganut Tridarma yang datang untuk bersembahyang, tetapi juga masyarakat umum yang sekadar ingin jalan-jalan.

Lampion dan kios

Di luar ruang Kelenteng Hok Cing Bio tampak tergantung lampion-lampion yang sudah dipasang beberapa pekan lalu. Lampion itu melengkapi ratusan lampion yang ada sebelumnya, yang membentang mulai dari dermaga hingga jalan-jalan kecil di sekitar kelenteng.

Puluhan kios baru berbahan kayu dengan atap daun rumbia juga telah didirikan. Kios itu melengkapi kios lama yang kondisinya telah lapuk. ”Kios itu dibangun untuk menyambut Cap Go Meh. Saat itu, jumlah pengunjung banyak sekali. Jalan saja sulit, apalagi yang punya anak, harus berhati-hati agar anaknya tidak terpisah,” tutur Marlina, petugas kebersihan di lingkungan kelenteng.

Kondisi Kemaro yang berada di tengah sungai memang cukup lengang. Sesekali suara mesin perahu yang melaju di sela-sela tongkang batubara yang tengah tertambat tidak jauh dari kelenteng memecah kesunyian. Sementara di seberang, gedung pabrik Pupuk Sriwijaya kokoh berdiri.

Linda, juru kunci kelenteng, sibuk memasang hio di beberapa altar persembahan. Menurut dia, tidak ada persiapan khusus yang membedakan penyambutan Imlek tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

”Saat Imlek, biasanya pengunjung datang ke sini khusus untuk sembahyang saja. Sementara mereka yang ingin jalan-jalan bisa memanfaatkan area luar kelenteng. Mereka semua warga Palembang, baik yang menetap maupun yang telah lama merantau ke luar daerah,” katanya.

Jejak Cheng Ho
Masyarakat Tionghoa di Palembang telah ada sejak berabad-abad silam. Saudagar asal Tiongkok menjadi salah satu dari beberapa etnis yang melayari Sungai Musi saat Kerajaan Sriwijaya berdiri. Bahkan, Laksamana Cheng Ho disebut-sebut pernah beberapa kali datang ke Sriwijaya dalam rangka diplomasi kebudayaan. Nama Cheng Ho pun diabadikan menjadi nama salah satu masjid di ”kota pempek” ini.

Bambang Budi Utomo dalam buku Cheng Ho: Diplomasi Kebudayaan di Palembang yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyebutkan, 600 tahun lalu, Kaisar Tiongkok Yung Lo memerintahkan Cheng Ho memimpin armada besar dalam rangka muhibah ke berbagai penjuru dunia. Dalam waktu 28 tahun, tujuh kali Cheng Ho memimpin armada pelayaran itu. Empat kali di antaranya merupakan kunjungan ke Palembang.

Selain untuk menjalin misi kebudayaan, tujuan kedatangan Cheng Ho ke Palembang juga untuk meringkus pelarian bajak laut dari Tiongkok bernama Ch’en Zuyi.

Keterangan Foto : Pedagang kaki lima dan lampion mulai marak ditemui di sekitar kelenteng Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan, pekan lalu. Pulau Kemaro setiap tahun menjadi salah satu kawasan yang dibanjiri pengunjung saat perayaan tahun baru Imlek hingga Cap Go Meh.

Minggu, 22 Februari 2015

Bahagianya Jadi Tukang Becak




Bahagianya Jadi Tukang Becak

Oleh : Johanes Krisnomo

Pak Apo, lengkapnya Apo Sutisna, asli Garut, saat ini tinggal di Kota Cimahi – Bandung. Profesi sebagai Tukang Becak telah digelutinya selama 50 tahun. Teman-teman dan keluarga seangkatan di kampung asalnya kebanyakan sudah berpulang, tinggal satu sahabat namun pikun dan tak bisa diajak bernostalgia. 
Saat ini, status umurnya sekitar 75 tahun, karena dia ingat waktu disunat, umur 2 tahun, Jepang baru saja datang.

Wajah Pak Apo, tampak sumringah ketika diajak berbincang tentang alasan masih eksisnya menjalani profesi tukang becak, Sabtu (21/02/15). Keriput wajahnya berayun elastis, senyumnya transparan tanpa gangguan kacamata, didukung indra pendengar yang masih joss!

Target utama yang membuatnya sedikit tenang, ketika uang sebesar lima ribu rupiah sudah ditangan sebagai pembayar uang setoran harian becak sewaannya. Setelah itu, Pak Apo bisa berbincang dan bercanda riang bersama teman-teman yang jauh lebih muda, sebagai pengisi waktu luang menunggu penumpang.

Membaca adalah kegembiraan lain yang dilakukannya, meski lewat koran-koran bekas, dan  satu hal lain selama menunggu tak pernah sekalipun tertidur seperti para tukang becak pada umumnya sehingga bila ada calon penumpang tak mungkin lolos.

Jalan hidup manusia harus disyukuri, kata Pak Apo, meski terkadang cuma dapat 15 ribu, Tuhan telah mengatur segala sesuatu dengan baik. Terbalut wajah polos, banyak menolong orang lain, dan menjaga hati bahagia tanpa iri dengki, telah membukakan jalan bagi orang lain untuk berbagi rejeki kepada Pak Apo.

Sebagai Tukang Becak, yang telah dicukupkan rejekinya, dalam ukuran Pak Apo, disyukuri mampu membiayai kehidupan di sisa umurnya. Selain itu, dibalik wajah optimisnya, dia masih dapat menanggung pembiayaan dan berharap agar cucu, dari anak perempuan pertamanya, lulus SMK – Sekolah Menengah Kejuruan, dan tidak menjalani profesi seperti kakeknya.(jk)

Cimahi, 21 Feb 2015  /Sumber Foto Dok Pribadi/Tayang : www.kompasiana.com/stalgijk

www.kompasiana.com/stalgijk
Terimakasih