JK250811

Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

Sambut Cap Go Meh di Pulau Kemaro


Sambut Cap Go Meh di Pulau Kemaro

Siti Fatimah, putri dari Kerajaan Palembang, disunting oleh Tan Bun An, saudagar asal Tiongkok. Oleh Tan, Siti diajak ke negeri asal mereka untuk menjenguk keluarganya. Saat kembali ke Palembang, pasangan ini mendapat hadiah berupa tujuh guci.

Guci itu baru dibuka oleh Tan saat kapal mereka berada di alur Musi. Tan terkejut karena guci yang dihadiahkan ternyata berisi sayuran. Ia pun membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, saat membuang guci terakhir, guci itu pecah di dek kapal dan terbongkarlah isi guci yang sesungguhnya.

Mengetahui bahwa guci berisi harta, Tan kemudian terjun ke sungai untuk mengambilnya kembali. Naas, Tan tidak muncul lagi ke permukaan. Begitu pula saat anak buahnya dan Siti menyusul terjun ke sungai dengan maksud menolong, mereka mengalami nasib serupa. Sejak saat itu, penduduk sekitar sering berkunjung ke Kemaro untuk mengenang mereka.

Legenda tentang Pulau Kemaro ini terpahat dalam prasasti di sisi kanan depan kelenteng yang dibangun oleh dinas pariwisata setempat. Tidak disebutkan apakah pendirian kelenteng ini ada hubungannya langsung dengan legenda itu. Yang pasti, citra Pulau Kemaro kemudian lekat dengan budaya Tionghoa di Palembang.

Selain kelenteng dan makam, di pulau seluas 180 hektar itu juga terdapat pagoda berlantai sembilan yang jarang ditemui di tempat lain.

Pada setiap perayaan Imlek, pulau yang berada sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera ini banyak didatangi orang. Jumlah mereka makin banyak saat Cap Go Meh tiba, yakni 13 hari setelah Imlek. Saat itu, tidak hanya warga Tionghoa penganut Tridarma yang datang untuk bersembahyang, tetapi juga masyarakat umum yang sekadar ingin jalan-jalan.

Lampion dan kios

Di luar ruang Kelenteng Hok Cing Bio tampak tergantung lampion-lampion yang sudah dipasang beberapa pekan lalu. Lampion itu melengkapi ratusan lampion yang ada sebelumnya, yang membentang mulai dari dermaga hingga jalan-jalan kecil di sekitar kelenteng.

Puluhan kios baru berbahan kayu dengan atap daun rumbia juga telah didirikan. Kios itu melengkapi kios lama yang kondisinya telah lapuk. ”Kios itu dibangun untuk menyambut Cap Go Meh. Saat itu, jumlah pengunjung banyak sekali. Jalan saja sulit, apalagi yang punya anak, harus berhati-hati agar anaknya tidak terpisah,” tutur Marlina, petugas kebersihan di lingkungan kelenteng.

Kondisi Kemaro yang berada di tengah sungai memang cukup lengang. Sesekali suara mesin perahu yang melaju di sela-sela tongkang batubara yang tengah tertambat tidak jauh dari kelenteng memecah kesunyian. Sementara di seberang, gedung pabrik Pupuk Sriwijaya kokoh berdiri.

Linda, juru kunci kelenteng, sibuk memasang hio di beberapa altar persembahan. Menurut dia, tidak ada persiapan khusus yang membedakan penyambutan Imlek tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

”Saat Imlek, biasanya pengunjung datang ke sini khusus untuk sembahyang saja. Sementara mereka yang ingin jalan-jalan bisa memanfaatkan area luar kelenteng. Mereka semua warga Palembang, baik yang menetap maupun yang telah lama merantau ke luar daerah,” katanya.

Jejak Cheng Ho
Masyarakat Tionghoa di Palembang telah ada sejak berabad-abad silam. Saudagar asal Tiongkok menjadi salah satu dari beberapa etnis yang melayari Sungai Musi saat Kerajaan Sriwijaya berdiri. Bahkan, Laksamana Cheng Ho disebut-sebut pernah beberapa kali datang ke Sriwijaya dalam rangka diplomasi kebudayaan. Nama Cheng Ho pun diabadikan menjadi nama salah satu masjid di ”kota pempek” ini.

Bambang Budi Utomo dalam buku Cheng Ho: Diplomasi Kebudayaan di Palembang yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyebutkan, 600 tahun lalu, Kaisar Tiongkok Yung Lo memerintahkan Cheng Ho memimpin armada besar dalam rangka muhibah ke berbagai penjuru dunia. Dalam waktu 28 tahun, tujuh kali Cheng Ho memimpin armada pelayaran itu. Empat kali di antaranya merupakan kunjungan ke Palembang.

Selain untuk menjalin misi kebudayaan, tujuan kedatangan Cheng Ho ke Palembang juga untuk meringkus pelarian bajak laut dari Tiongkok bernama Ch’en Zuyi.

Keterangan Foto : Pedagang kaki lima dan lampion mulai marak ditemui di sekitar kelenteng Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan, pekan lalu. Pulau Kemaro setiap tahun menjadi salah satu kawasan yang dibanjiri pengunjung saat perayaan tahun baru Imlek hingga Cap Go Meh.

Minggu, 10 Agustus 2014

Sam Poo Kong Semarang





Sam Poo Kong Semarang

Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang, merupakan salah satu kelenteng peringatan bagi Sam Poo Kong atau Zheng He. Di bagian dalamnya, kokoh berdiri patung perunggu, Laksamana Agung Zheng He (1371-1435), Sang Duta Perdamaian, setinggi 10,7 meter. Beliau memimpin armada muhibah mengunjungi banyak wilayah di benua Asia dan Afrika, termasuk Jawa dan Sumatera. Selain digunakan untuk peribadatan dan pemujaan, juga menjadi sarana menarik sebagai objek wisata dan religi, Selasa (29/7/14).

Catatan : Hasil liputan pribadi dan Berita Foto telah tayang di Kompasiana

Visit :    
www.kompasiana.com/stalgijk 







Terimakasih Atas Kunjungannya
Sampai Jumpa di www.johaneskrisnomo.blogspot.com

Kamis, 08 Agustus 2013

Mendulang Masa Lalu Menyiram Masa Kini




        Mendulang Masa Lalu Menyiram Masa Kini
 
KabarIndonesia - Beberapa waktu lalu, bersama teman-teman semasa kuliah mengadakan Buka Bersama di sebuah rumah makan di Bandung. Selain menunya mantap, ikan bakar dan sambal serta lalapan (sayuran mentah), suasananya akrab bernuansa nostalgia, lepas-bebas dari posisi jabatan dan status sosial.

Mendulang masa lalu, merunut balik daya juang untuk mencapai sebuah target, ingin cepat lulus kuliah, membuahkan rasa syukur dan semangat baru melanjutkan sisa-sisa kehidupan agar lebih bermanfaat dan bermakna.

Di antara kesibukan yang super, terkadang kita lupa untuk memberi rentang waktu, menata kembali pola pandang berpikir dan mencari segala kebaikan yang telah kita terima dari-Nya. Tentang kegagalan, bukan alasan bijak untuk melemahkan semangat juang, tetapi merupakan pelajaran kehidupan yang diberikan Sang Pencipta untuk lebih memperkuat ketahanan dalam pencapaian sebuah keberhasilan.

Mendulang masa lalu, sejukkan hati dan sirami sebanyak mungkin rasa syukur serta berbagi kepada sesama yang memerlukan. Mari kita sambut Idul Fitri 1434 H, bersama keluarga, sahabat dan handai taulan, bersyukur atas semua karunia-Nya dengan hati bersih dalam suasana silaturahmi yang hakiki. (*)


Alumni Kimia ITB di Bandung, 20 07 13/www.kabarindonesia.com / www.johaneskrisnomo.blogspot.com
































                                     
 

Selamat Idul Fitri - 1434
Mohon Maaf Lahir Bathin

Bandung, 08 Agst 2013
Johanes Krisnomo
www.johaneskrisnomo.blogspot.com







Sabtu, 02 Februari 2013

Kota Tua Jakarta




Kota Tua Jakarta Kota

Johanes Krisnomo
Sepintas Kilas Jalan-Jalan
  
26 Jan 2013


 

















































Foto-Foto di abadikan dg kamera pocket Canon A - 2300

Info Lengkap Sejarah dan Foto
 www.kotatuajakarta.org

Terimakasih Atas Kunjungannya

Johanes Krisnomo